Senin, 15 November 2010

Stasiun...dan Kereta Senja...di kala itu...

Sejak saya kecil sampai lulus kuliah, baru sekali saya menapakkan kaki di stasiun, yaitu ketika SMA tempat saya bersekolah akan mengadakan study tour ke Pangandaran. Ya, sejak kecil saya memang tidak akrab dengan transportasi umum selain bis. Naik kapal juga baru 2x gara2 pas SD dan SMP ke Bali. Pesawat? Yah, saya berharap tahun-tahun ke depan saya bisa merasakan naik pesawat. :)
Mulai akrab dengan stasiun adalah setahun yang lalu, dimana saya harus bisa reservasi tiket sendiri, dan tentu saja belajar memahami apa yang disebut peron, gerbong, dan segala hal terkait dengan perkeretaapian.

Sekitar seminggu yang lalu, saya harus memesan tiket untuk perjalanan ke Jakarta, dan kereta favorit saya tentu saja adalah Kereta Senja. Hari sebelumnya saya sudah dipesan oleh teman saya untuk datang sepagi mungkin, karena antrian untuk reservasi tiket akan sangat panjang. Hal ini dikarenakan Jogja sedang heboh dengan Merapinya dan bandara ditutup, tentu saja mayoritas orang akan lari ke stasiun.
Saya masih ingat, pagi itu sebenarnya saya berniat ke stasiun jam 8 pagi, tapi berhubung saya harus mengantar kakak saya, akhirnya saya baru bisa sampai di stasiun jam 10. Oke, syukurlah saya sudah tidak perlu tengak tengok tentang jadwal keberangkatan kereta senja, karena sudah hafal di luar kepala. Kereta Senja Jogja dari Stasiun Tugu jam 18.30, kalo yang dari Senen jam 19.20. Sangat hafal! Hehehe...
Olalaa...dan ternyata saya mendapat nomor urut antrian 492. Fiuuh...saya menarik nafas panjang... Sabar euy! Sementara waktu itu antrian baru jalan sampai nomor 200an. Baiklah, dari pada hanya menunggu dan membuang waktu percuma, saya putuskan untuk menyelesaikan agenda saya yang lain. Keluar dari stasiun, meluncur ke studio foto untuk nyetak foto, ke rental, ngeprint, fotokopi, beli materai, beli pulsa, ke Puskesmas deket rumah (yang artinya saya harus menempuh perjalanan cukup jauh). Yak, menyenangkan sekali rasanya bisa melahap banyak agenda dalam sekali jalan. Saya termasuk orang yang lebih suka pergi dan mengurus segala sesuatunya sendiri...tidak perlu merengek-rengek minta ditemani lah...toh yang mau ditemui juga sama2 orang, manusia juga...ngapain mesti minta ditemenin? hehehe...
Sampai di stasiun lagi jam 12...dan nomor antrian baru jalan sampai 300an. Parahnya, tempat reservasi tiket semakin penuh berjubel orang2... Hoalaah...berasa kekurangan oksigen. Sempat menunggu sebentar sambil sms-an dengan posisi duduk yang tidak manusiawi. Saking penuhnya orang, tempat duduk sudah penuh, dan saya dengan pede-nya asal ndeprok saja di bawah...hahaha... Jelek sekali bentukannya :P

Secara perhitungan matematis, masih cukup lama saya akan dilayani... Dan karena suasananya sangat ruwet plus tidak ada pemandangan indah untuk dinikmati, saya memutuskan untuk keluar stasiun lagi. Motor saya melaju menuju Shoping, tempat jualan buku di Jogja dengan harga yang lumayan miring. Ahahay...kangen juga...sudah lama saya menahan diri untuk tidak membeli buku :(
Sesampainya di TKP, saya langsung menuju ke lapak Lentera. Itu adalah langganan saya, tidak perlu menawar lagi karena si penjual yaitu Pak Tulus, orangnya baik dan jujur. Haisyaah malah ngiklan :D
"The lost symbol, pak" pinta saya.  "Aduh habis mbak, sebentar ya saya carikan dulu" jawab beliau. Tanpa basa basi setelah beliau menyerahkan novel itu, saya langsung membelinya. Saya suka ngobrol2 sama Pak Tulus karena beberapa teman saya juga menjadi langganan beliau, jadi kami sering ngobrol bertukar info mengenai hal tersebut. Bukan nggosip loh, hahaha... Yaah, lumayan lah buat mengulur waktu...

Selesai urusan dengan Pak Tulus dan novel yang sudah saya dapatkan, perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini sampai di pertigaan RS PKU Muhammadiyah, hati saya tergoda untuk membeli jilbab di Rabbani. Hahaha...berbeloklah motor saya ke toko tersebut. Masuk toko dengan senyum otomatis mengembang (wow, mak nyuuus sekali). Ya iya lah, ber-AC gitu loh. Lumayan lah, ngadem!
Saya nggak begitu suka model jilbab yang aneh2. Jadi, langsung saja saya menuju tumpukan jilbab yang sekiranya sesuai dengan selera saya. Hmm...terakhir saya beli jilbab kalo nggak salah sekitar 2 tahun lalu, jaman mau KKN, gara2nya nggak punya persediaan cukup jilbab slobokan. Hehehe... Dan sekarang saya butuh beli jilbab slobokan lagi buat persediaan di dunia rantau kelak. Halah2... :P
Sama halnya ketika saya lebih suka pergi sendiri untuk menyelesaikan urusan2 saya, dalam hal membeli kebutuhan pribadi, saya pun lebih suka sendiri. Tidak terlalu suka belanja2 bareng temen2...apalagi cuma cuci mata di mall...maleees aaah...hehehe...

Yak, setelah sukses membeli 2 jilbab...saya pun balik ke stasiun... Ini ketiga kalinya saya masuk ke stasiun dalam 1 hari itu. Artinya saya sudah menghabiskan 6000 rupiah buat bayar parkirnya, xixixi... :D
Ternyata saya masih harus menunggu. Huff, baiklah...saya berusaha sepenuh hati untuk menunggu dengan sabar. Tapi, perut keroncongan tak dapat berbohong, level kelaparan saya sudah masuk stadium 3. Duh, mau ditinggal makan juga nggak mungkin. (kalo urusan makan, saya agak males kalo harus makan sendirian di warung). Akhirnya saya memilih membeli minuman dingin, dan pilihan saya jatuh pada Pulpy Orange! Serat2 buah jeruknya mantap abis lho...enak deh! Glek glek glek...saya meminum dengan semangat 45 sambil ndeprok (lagi) di tempat yang sekiranya nggak bakal diinjek-injek orang. Kira2 20 menit kemudian, saya akhirnya dilayani, alhamdulillah dapet tiket dan nomor kursi sesuai keinginan. Waktu untuk pembelian tiket nggak sampe 3menit, tapi nunggunyaaa...subhanallah sekaleee... :)

2 hari pasca adegan pembelian tiket adalah hari dimana kereta senja saya dijadwalkan akan berangkat meninggalkan jogja menuju jakarta. Pagi hari sebelum saya berangkat beraktivitas, sempat melihat berita di tivi tentang kereta Cireks yang anjlok. Tidak ada feeling apa2. Siang hari tiba2 mendapat sms dari bapak yang isinya mengabarkan bahwa semua kereta dari jogja ke jakarta masih ditunda keberangkatannya. Sekitar jam 14 siang saya ngecek ke stasiun tugu, dan benar saja, tidak ada kepastian kapan kereta senja bisa diberangkatkan. Sempat bingung, pusing, apalagi saya belum selesai packing dan menyiapkan semua berkas yang diperlukan. Tapi jelang sore, saya malah tidak terlalu panik, berpikir sangat santai dan semeleh. Kalo besok saya harus ada di jakarta, pasti Allah akan bantu dengan jalanNya. Yang penting ikhtiar saja dengan optimal. Ya, kemudian saya memutuskan untuk mengcancel tiket. Syukurlah uang kembali 100%.

Deg deg-an? Tentu saja. Sedikit cemas? Pastinya. Tapi saya yakin, pertolongan Allah itu akan tiba di waktu yang tepat. Prasangka baik seorang hamba, ternyata akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Hari berikutnya, hari dimana saya harus ada di jakarta, alhamdulillah kaki saya bisa menapak di ibukota. Semua urusan saya beres.

Ya, itulah... Manusia boleh berencana, tapi keputusan akhir tetap merupakan hak Allah. Perjuangan untuk mendapatkan tiket kereta senja bagi saya merupakan pelajaran penting, selain disuruh bersabar, saya juga dilatih untuk mengefektifkan waktu yang ada. Dan lihatlah, pada akhirnya skenario langit lah yang berkuasa menjalankan ketetapanNya... :)
Tidak ada rasa menyesal, tidak ada rasa kesal. Yang ada hanya rasa syukur, karena dibalik semua itu, saya tau Ia masih ingin mengajarkan arti sebuah pengorbanan... :)

Jangan pernah lelah untuk percaya pada kuasaNya... :)

1 komentar:

  1. Jangan pernah lelah untuk percaya pada kuasaNya... :)

    like this det!!! :)

    BalasHapus