Senin, 15 November 2010

Geng Radio Dalam (episode bajaj)

Pagi itu, 4 sosok gadis sedang berjalan kaki bersama. Menyusuri kawasan radio dalam yang super macet hingga sampai di perempatan dan berbelok ke arah Gandaria. Celingak celinguk kesana kemari...sebenarnya di benak mereka sedang memikirkan kendaraan yang paling efektif untuk sampai ke tempat tujuan mereka. Ada sih bis yang lewat, tapi sayangnya nggak bisa sekali, harus ganti bis 2x untuk sampai ke tempat tujuan. Huff, sedikit bingung, maklum saja ke-empat-nya belum pernah menjajah jakarta, tapi demi mencari secercah harapan masa depan, mau tidak mau mereka harus menginjakkan kaki di ibukota, dan ternyata takdir membawa mereka ngemper di RaDal, hehehe...
Kalo opsi bis sudah dicoret, maka opsi selanjutnya adalah taksi. Taksi? Hmm...kalo nggak kena macet sih oke2 aja, tapi kalo ntar di jalan ternyata macet...wew bisa tekor dunk! Beberapa bajaj yang mangkal mencuri perhatian. Tapi keraguan menyelimuti hati... "kalo naik bajaj, ntar kudu 2 bajaj dunk, gak bisa barengan". Sempat mendekati si bajaj dan melirik ke dalam "kalo buat berempat cukup gak ya?". Weleh2...nekat sekali 4 gadis ini...bahkan sampe kepikiran yg 1 ditaruh di depan alias menemani si sopir bajaj... :))
Akhirnya setelah berdiskusi dengan seksama, diputuskan bahwa bajaj yg terpilih mengangkut mereka, tapi dengan catatan "kalo 1 bajaj gak cukup, ya naik 2 bajaj". Jreeeeeng! Coba tebak, apakah 1 bajaj muat menampung 4 orang sekaligus? Eh, 5 ding, plus sopirnya. Yak, anda benar! Jawabannya adalah "muat"! Hahaha...maklum saja, 4 gadis ini sepertinya punya kekuatan super untuk mengecilkan tubuh mereka :D
Saya yakin, sopir bajaj tersebut pasti cuma mbatin dalam hati "mbak2 iki ajaib tenan". Hihihiy, maafkan kami paaaak... :D
Begitu si bajaj melaju dengan kencang...sontak saja mereka ngakak guling2 di dalam bajaj. Baru sekali itu naik bajaj dan merasakan sensasinya yang aduhai asoy geboy!

Hari berikutnya mereka punya agenda yang super duper penting di senayan... Yak, daripada pusing2 mikirin transport, inisiatif pun muncul "pak, kalo besok pagi jemput kita disini trus nganter ke senayan, bisa gak ya?" Si sopir bajaj menjawab dengan mantap "bisa, sms aja nanti mbak, nama saya Salidi, nomer saya blablablaaa...". Wow! Gaul pisan euy si bapak...

Hari yang dinanti pun tiba. Mereka sudah janjian dengan Pak Salidi jam 6 pagi. Bagusnya, mereka adalah anak2 yang rajin, jadi ya ontime lah kalo udah janjian... Sialnya, Pak Salidi ternyata lebih top markotop! Jam 6 kurang 10 menit beliau menelpon dan berkata sudah menunggu di depan. Uwoooo...bagai disengat listrik...4 gadis itu pun bergegas...dengan senyum terkembang mereka cepat2 keluar kamar, menuruni tangga, keluar gedung, keluar gerbang, dan mencari sosok Pak Salidi dengan BBGnya. (BBG = Bajaj Biru Gauuul)

Perjalanan menuju Senayan dinikmati sepenuh hati. Jakarta yang masih belum padat merayap, pikiran yang masih fresh, dan kebersamaan yang nyata. Menyenangkan! Yak, hanya dalam hitungan jam, 4 gadis itu menobatkan Pak Salidi sebagai salah satu pahlawan mereka dalam perjalanan ke barat mencari kitab suci. Wkwkwkwk...hidup Pak Salidi!

Hampir sampai di jalan masuk menuju Senayan...tampak berderet mobil-mobil antri ambil karcis parkir. Pak Salidi otomatis berkomentar "wah yang lain pada diantar pake mobil mbak". Salah satu dari 4 gadis itu menjawab, "ah, ini juga malah lebih elit pak...cuma kita kan yang pake bajaj". Benar saja, disaat mobil2 lain harus membayar karcis parkir, Bajaj Biru Gauuulnya Pak Salidi langsung dipersilakan masuk sampai ke dekat GOR GBK...tanpa bayar karcis parkir! Terima kasih kepada bapak2 satpam di gerbang Senayan yang begitu baik...hehehe...

Selesai melakukan ritual penting selama beberapa jam di Senayan...kebingungan merambat lagi... Olalaaa...harus pake apa yaa pulang ke radio dalam? Apa nelpon Pak Salidi aja? Tanpa pikir panjang dan sok ke-pede-an...mereka melenggang berjalan keluar dari Senayan dan berinisiatif menunggu bajaj apapun yang lewat di pinggir jalan raya...
5 menit menunggu...
10 menit berlalu...berdiri kayak cacing kepanasan
15 menit kemudian...duduk2 di bawah pohon dulu deeeh...
krik...krik...
"kok nggak ada bajaj lewat sih? taksi semua dari tadi"
Investigasi pun dilakukan kepada penjual minuman yang mangkal di dekat mereka, dan ternyata mereka mendapat jawaban yang aduhai "disini memang kawasan bajaj dilarang masuk"
Syalalalaaa...mau nunggu bajaj sampe lumutan juga kagak bakal ada yang lewat...

Mendadak dangdut Pak Salidi muncul di benak mereka "haaah jadi tadi pagi itu kok bajaj pak salidi bisa sampe sini? bwahahaha...dasar ra gaul, ra reti info nek bajaj dilarang masuk ke kawasan senayan! pantesan pak salidi komentarnya begitu..."


Yak, pelajaran berharga yang bisa saya dapat dari kisah 4 gadis beserta bajajnya adalah:
1. tepat waktu alias disiplin. sopir bajaj saja bisa menghargai waktu...masa' kita mau lelet kayak ulel keket..
2. jangan nekat seperti 4 gadis itu kecuali kondisi darurat, sangat tidak manusiawi 4 orang naik 1 bajaj. andai bajaj bisa bicaraaa...pasti dia akan menjerit kesakitan... :))
3. cari info yang akan menunjang perjalanan anda ketika berada di kota lain. ingat, alat transportasi yang aman, nyaman, dan efektif akan sangat membantu mood anda
4. nikmati saja semilir angin yang bisa anda rasakan ketika naik bajaj. sensasinyaaa aduhai asoy geboy!
5. jika ingin naik bajaj, pilihlah BBG... Bajaj Biru Gauuul... :D

2 komentar:

  1. terima kasih telah memberi inspirasi, wahai ulel keket... :P

    BalasHapus